ANAK SASTRA

Oktober 31, 2009 pukul 07:31 | Ditulis dalam Uncategorized | Tinggalkan komentar

Wejangan Aneh
(24 May 2009, 103 x , Komentar)

Oleh: Nurwahidin NL

Matahari sudah mulai lelah bersinar dan ingin bersembunyi di kejauhan. Angin berusaha menutup kelopak mataku dengan rayuan sepoinya. Tapi sayang mataku masih terkagum dengan sunset. Ombak tetap liar saling berkejaran tak menghiraukan melihat aku yang sedang asyik duduk di atas singgasana hamparan pasir Galesong.Sebatas pandanganku, kulihat beberapa perahu berjejer di bibir pantai. Tak seperti minggu lalu saat aku ke mari, mataku masih puas memandang telanjang laut lepas mengiringi kepergian sang surya. Hal itu karena sekarang dewi malam diam-diam mulai mengintip kehidupan malam di Galesong.

Tak lama kemudian azan berkumandang di masjid yang tidak jauh dari lapangan.
“Lulu, pulangmako, Nak! Tidak baeki di luar kalo sore begini.”
Kudengar suara parau seorang wanita tua di belakangku yang wajahnya sudah tak asing bagiku; Dg Bulang.

***
Bangunan megah itu selalu membuatku kagum atas persatuan masyarakat di kampungku. Betapa tidak, bangunan dengan patung ikan di pintu gerbang menandakan masyarakat sekitar berprofesi sebagai nelayan.

Tapi ketika aku masuk, kadang-kadang lekukan-lekukan kaligrafi di dinding bangunan itu menyaksikan jeritan jiwaku. Masjid yang begitu megah dihuni oleh segelintir anak belasan tahun seperti aku, yang lainnya hanya orang tua.

Di sampingku berdiri sosok lelaki yang pakaiannya aneh menurutku. Bajunya bersih tapi banyak sekali yang ditempel. Mungkin dia tidak bisa beli baju baru sehingga bajunya yang robek ditempel-tempeli. Lain lagi celananya, tidak sampai ke atas sehingga boxernya kelihatan.

Selain itu, bagian bawah celananya sangat kecil. Mungkin dia tidak punya cukup uang untuk membeli celana sehingga dia pakai celana adiknya.

“Mo ke manako Cika’ gammara’ kamma?”
“Biasa toh anak muda. Kan ada pasar malam di lapangan. Tidak ke sanako kah?”
“Ah malaska deh. Sudah lalopi Isya baru pergiko!”
“Mengertiji itu Tuhan. Sekarang kan zaman modern.”

Hatiku geli mendengar bualan anak muda tadi, seakan-akan dia pernah negosiasi dengan Tuhan tentang ibadah. Maklum dia tidak sekolah dan sekarang berprofesi sebagai nelayan.

Di luar masjid ternyata sudah berseliweran manusia-manusia se-umuran-ku yang aneh-aneh menurutku. Galesong adalah desa di daerah timur, tapi pakaian anak mudanya seperti orang barat yang kulihat di televisi.

Mereka selalu memakai pakaian adiknya ketika bepergian. Aku heran memikirkan zaman. Entah aku yang terbelakang atau mereka yang terlalu prematur untuk mengerti mode.

***
Aku teringat pesan nenekku sebelum meninggal dua tahun yang lalu. Waktu itu aku duduk bertiga dengan sepupuku yang perempuan di teras rumahku. Mentari namanya. Dia juga masih seumuran denganku.

“Kalian berdua jangan pernah melupakan budaya desa kita!”

Itulah pesannya, masih membekas di ingatanku bahkan waktunya persis malam ini. Dewi malam masih menyembunyikan sebagian besar tubuhnya yang indah. Para nelayan beristirahat melaut. Semua kapal diparkir di bibir pantai. Ombak kelihatan malas berkejar-kejaran sehingga pohon kelapa tak mampu melambai untuk menyapanya.

Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah sebelah rumahku. Suara itu sangat kukenal. Ya suara itu milik sepupuku; Mentari.

Dalam sekejap ruangan tamu yang berukuran 6 x 6 itu dipenuhi oleh orang-orang. Kulihat Mentari sedang terbaring di sofa dan merontah sehingga ayahnya harus mengeluarkan tenaga untuk menenangkannya. Sementara Dg Bulang, ibunya hanya bisa memeras air matanya.

Sejenak Mentari terdiam dan aku heran melihat tontonan ini. Mataku liar dan kudapati sosok lelaki yang tadi sore bertemu denganku di masjid tengah berada dalam kerumunan itu. Namanya Rudi, kakak Mentari.

“Kesurupangi itu”

Terdengar bisikan dari arah belakangku. Sesaat kemudian muncul seorang lelaki tua berpeci hitam. Dg Ngitung. Kemejanya abu-abu kusut berpadu dengan sarung biru bercorak kotak-kotak kecil dibalut di pinggangnya. Dia langsung duduk di depan sofa tempat Mentari berbaring.

“Ambilko dulu dupa!!”

Perintah Dg Ngitung pada Dg Bulang. Entah kenapa Dg Bulang langsung saja menjalankan perintah kakek tua tadi tanpa banyak tanya. Anehnya lagi, kerumunan orang tadi langsung duduk tanpa diperintah. Mereka hanya melongo melihat ritual yang dilakukan Dg Ngitung dengan dupanya tadi.

Kulihat Mentari masih menutup matanya, tapi dia mulai menegakkan badannya dan duduk bersila di atas sofa.

“Ambilkanga pakaianku….”

Sepintas terucap sepatah kata dari bibirnya. Aku heran mendengar kata-katanya. Dia sudah memakai baju tapi masih meminta pakaian.

“Carikko songkok guru dan lipa’ sabbe!!”

Dg Ngitung menjawab kebingungan kami yang saling bertanya kiri-kanan. Sekali lagi Dg Bulang dengan sigap langsung mencari apa yang diperintahkan oleh Dg Ngitung walau dia masih menangis.

“Janganki kasi begitui cucuta”

Suara itu terdengar samar ke luar di sela tangis Dg Bulang. Perlahan aku mengerti bahwa yang merasuki Mentari adalah roh nenekku yang meninggal dua tahun yang lalu.

Mentari kelihatan seperti seorang bangsawan memakai songkok guru dan lipa’ sabbe. Matanya masih tertutup tapi dia mulai berbicara. Dia duduk bersila penuh Karisma dan memberi wejangan pada kami semua agar jangan melupakan budaya Desa Galesong.

“Kau Rudi, tidak pernah lagi kulihat ikut ayahmu ke pantai bawa pa’rappo (sesajen). Sekarang kau lihat kan? Ayahmu tidak pernah lagi mendapatkan rezeki yang banyak. Kau lebih memilih ikut budaya orang lain dibandingkan budayamu sendiri.

Bukan hanya Rudi, kalian semua juga jangan pernah meninggalkan rumah (masjid) yang telah kalian bangun di dekat lapangan. Penuhilah rumah itu, agar desa kita jauh dari musibah”.
Aku bingung melihat peristiwa ini. Rudi tertunduk malu dan takut kepada adiknya sendiri. Bahkan hampir semua orang yang hadir minta maaf pada sosok Mentari yang sedang kerasukan.

Setelah memberi wejangan melalui Mentari, dia lalu memerintahkan kepada Dg Ngitung supaya mengantarnya pergi. Dg Ngitung pun mengiyakan dan kembali melakukan ritual dengan dupanya. Gumpalan asap dengan bau kemenyam kembali menyesaki ruangan itu hingga Mentari kembali terbaring seakan sesuatu telah pergi dari tubuhnya.
***

Lagi-lagi terjadi keanehan, bangunan megah yang sering kukunjungi kini memiliki penghuni yang cukup banyak. Betapa tidak, malam ini pasar malam belum berakhir. Tapi masyarakat lebih dulu ke masjid untuk salat berjemaah.

Jauh berbeda dengan semalam. Entah apa yang membuat mereka mengunjungi masjid. Apakah kesadaran akan perintah Tuhan ataukah sekadar mengikuti perintah nenekku yang semalam memberi wejangan?

Galesong, 2008’ Komunitas Penulis Sastra Parangtambung

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: