Lanjutkan

Januari 31, 2010 pukul 09:33 | Ditulis dalam cerpen | Tinggalkan komentar

Makassar dipanggang panas matahari yang menyengat ke lapisan kulit terdalam. Sebagai kota dengan tingkat polusi terartas di negeri ring of fire, Makassar begitu kejam di siang bolong. Lalu lalang kendaraan memadati sepanjang jalan Perintis kemerdekaan. bahkan pada saat puncaknya Perintis kemerdekaan bisa bermetamorfosis menjadi lautan kereta besi yang terjebak perangkat padatnya volume kendaraan.

Satu sisi yang kontras terhampar jelas sekitar lima ratus meter ke arah utara dari pusat kemacetan Perintis kemerdekaan. Universitas Hasanuddin yang sering disingkat UNHAS menjadi paru-paru kota yang telah kanker oleh asap kendaraan. Seperti masuk kedalam hijaunya hutan, UNHAS menawarkan oksigen segar diantara cekikan karbon dioksida dan kawan-kawannya.

Tak seperti segarnya udara yang ia hasilkan karena hutannya yang terjaga. Civitas akademik UNHAS memberikan ciri tersendiri yang khas. Pusat pergerakan mahasiswa yang doyang dengan lempran dan bakar ban di tengah jalan. Bukan rahasia umum lagi, dari sabang sampai merauke. Setiap aku bertanya kepada temanku yang berasal dari luar daerah tentang Makassar dan UNHAS, tak pernah berubah. Seperti telah sepakat mereka kompak mengatakan kerusuhan dan kekerasan mahasiswanya.

Ditengah ribuan kepala yang aku sendiri tak yakin ada isisnya. Aku berdiri kebingungan menatap pemandangan yang baru kali pertama aku lihat sekaligus terlibat di dalamnya. Berdemo di depan gubernuran menuntut rencana penerapan Undang-undang BHP. Bendera kelompok mahasiswa, kertas-kertas besar yang bertuliskan tuntutan, dan suara yang tak jelas dari pengeras suara bermerek TOA ditambah irama lagu-lagu pergerakan mewarnai siang yang panas itu.

Aku tak habis piker, BHP seakan menjadi bentuk penghianatan terhadap pergerakan mahasiswa khususnya di kota angin mammiri ini. Alumnus mahasiswa UNHAS yang waktu mudanya di habiskan di jalan meneriakkan perjuangan menjadi pencetus dari UU BHP yang terkenal itu. Jika aku memikirkan hal itu aku terlempar dalam jurang penyesalan karena telah berada di tengah manusia yang menamakan dirinya Agen of change di saat ia vocal menyerukan perubahan. Tapi aku takyakin sepuluh tahun yang akan datang, saat suara yang pernah berteriak di tengah panasnya kota di suguhi harta dan tahta. Mungkin mereka juga akan melalukan hal yang sama dengan pencetus BHP atau bahkan lebih sekarat.

“Setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya”. Itulah yang dapat aku lihat dalam pergerakan yang mengabaikan hakikat hidup yang damai tapi lebih mengedepankan dara mudah yang meletup-letup.

FISMAT telah mengantarku sehingga aku bisa berada di tengah-tengah kerumunan massa ini. Seperti lari dari kenyataan, aku tinggalkan jam kuliah yang menawarkan kejenuhan sensasi yang itu-itu saja. Aku seperti dalam dunia yang menawarkan tantangan dan intrik. Dikejar POLISI, ditembaki Water canon, atau bahakan ditangkap bagiku sensasi itu membuatku menjadi mahasiswa yang sesungguhnya.

Lima meter hampir tingginya, samar di depanku karena penglihatanku hitam dihantam panasnya atmosper kota Makassar. Tembok itu menjadi akhir dari lorong tempatku berlari. Asap putih pekat membumbung tinggi di sana sini, helicopter berwarna putih biru dengan tulisan “POLISI” di ekornya mengintai seratus meter di atas kepalaku.

Tak ada jalan lain, seperti hormone testosteronku telah meluap dengan gagahnya tembok yang tingginya lima meter seperti satu jengkal aku lalui. Bahkan lenganku yang berdara-dara karena pontang-panting diburuh oleh salah satu pemeran lakon Cicak Buaya dalam banyak media nasional itu tak aku rasakan lagi

Tak cukup samapi di situ, karena terus dikejar-kejar POLISI niat kotorku-pun mulai bermunculan. Aku mencari mesjid dengan gaya orang tak bersalah aku mengambil wudhu. Ide gilaku itu ditiru oleh mahasiswa lain yang juga telah capek diburuh POLISI. Betul kata Pak Ustad tempo hari, manusia akan mengingat Tuhannya saat kesulitan. Tapi apapun itu namanya hari itu aku ditolong oleh Tuhan. Aku juga sadar semua ini adalah kutukan dari jam kuliah yang aku tinggalkan.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: